Dokter Mencampakkanku, Sakit Campak di Awal Ramadhan

Awal ramadhan tahun ini saya mendapat sebuah mimpi buruk. Yang namanya mimpi buruk jelas tak ada seorangpun yang mengharapkan, bukan begitu? Apa mimpi buruk yang tiba-tiba datang di awal ramadhan saya? Tak disangka tak diduga saya terkena campak, penyakit yang biasa menyerang anak kecil telah dengan berani menyerang tubuh saya.
Bagaimana bisa saya yang sudah 26 tahun terkena campaka? Apakah dulu tidak diberi vaksin campak sewaktu kecil?

Setahu saya, ibu saya paling rajin dan paling nurut kalau sudah menyangkut kesehatan anaknya. Jadi sudah pasti sewaktu masih bayi saya diimunisasi campak. Kemudian saat duduk di bangku sekolah dasar vaksin campak kembali diberikan. Seingat saya juga saya selalu mengikuti setiap vaksin yang diberikan saat bulan imunisasi anak sekolah (BIAS), tidak kabur-kaburan biar gak disuntik lengannya.

Konon katanya, meskipun sudah diimunisasi campak, tidak serta merta membebaskan seseorang dari penyakit campak. Imunisasi campak hanya meningkatkan kekebalan tubuh terhadap campak, namun jika sistem imun seseorang sedang buruk dan ada virus campak bisa saja ia terserang. Jadi jika sudah pernah imunisasi campak, tetap akan ada yang terkena pada umur tertentu dan ada yang terbebas seumur hidupnya. (mohon koreksinya jika pernyataan di paragraf ini salah).

Kronologi dari gejala hingga proses penyembuhan campak di tubuh saya

Sebelum bulan puasa, saya mengalami hal yang aneh tapi tidak dirasa. Beberapa hari tidur tanpa mematikan lampu, saat bangun tidur mata terasa sakit, susah dibuka, serasa ada pasir yang menempel di mata. Mata terasa lebih sensitif terhadap cahaya dari biasanya.

Bersamaan dengan itu, beberapa hari saya merasakan seperti pilek, namun tidak encer, hanya ada lendir-lendir yang menempel di belakang hidung dan untuk membuang lendir itu hanya disedot kemudian dibuang melalui mulut.

Di saat yang bersamaan, di muka saya muncul bintik-bintik kecil seperti jerawat bernanah. Muka saya yang memang terkadang berjerawat membuat saya tidak curiga akan gejala-gejala penyakit lain. Padahal katanya ini adalah salah satu gejala dari penyakit campak.

Beberapa hari berlalu, saya menjalani hidup dengan normal saja. Hingga suatu hari, tepatnya 05 Juni 2016, saya merasa sesuatu yang tidak seperti biasa. Rasanya ingin tidur terus dan badan pegal linu di persendian. Serasa tulang mau copot terpisah-pisah. Saya kira hanya efek kecapekan karena sehari sebelumnya saya baru dari rumah kakak yang jaraknya lumayan jauh, kemudian berputar seharian dengan motor ditambah kurang tidur.

Malam Senin, badan belum juga sembuh, masih terasa linu dan pegal di persendian. Saya coba kerokan, tidak ngefek sama sekali. Saya tidur sekitar pukul 00.00, bukannya bisa tidur malah menggigil kedinginan. Sudah pakai jaket, celana panjang dan 2 sarung masih saja merasakan dingin menggigil. Ditambah lagi dengan sakit kepala yang senut-senut luar biasa mengganggu.

Paginya ketika sahur hari pertama saya beli obat flu di warung. Saya minum sesuai dosis yang dianjurkan. Sampai buka puasa, panas dan sakit kepala belum sembuh. Pegal linu dipersendian pun masih terasa semakin menjadi. Akhirnya ketika buka puasa saya minum jamu/obat pegal linu, kemudian sekitar jam 8 malam saya minum obat flu dan sebelum tidur minum obat pegal linu lagi. Badan panas, sakit kepala, pegal-pegal masih terasa sampai saya tertidur melewati malam.

Keesokan paginya, 07 Juni 2016 panas di badan sudah sedikit menurun, sakit kepala sudah hilang, pegal linu dipersendian sudah sedikit berkurang. Saya bisa menjalani ibadah puasa dengan lancar. Hingga sore hari muncul bintik merah seperti gigitan nyamuk di lengan saya. Tapi saya masih cuek karena bintik merah hanya muncul sebentar kemudian hilang dan badan sudah enakan.

Malam harinya saya merasa badan sudah lebih baik dari 2 malam sebelumnya. Hanya persendian yang masih pegal linu serasa mau copot. 08 Juni 2016 pagi saya bangun pukul 03.30 untuk makan sahur, masih biasa-biasa saja. Eh lah kok sekitar jam 5 pagi muncul bintik merah lagi di lengan saya.

Pagi itu saya masih menyempatkan beberes rumah, berharap tidak terjadi apa-apa. Semakin siang bintik merah semakin banyak. Bintik merah yang semula hanya di lengan kini sudah menyebar ke muka, kaki dan badan. Bintik merah yang semula kecil seperti gigitan nyamuk sekarang menjadi melebar menjadi merah ruam. Ditambah dengan rasa gatal yang kadang datang.

bintik merah penyakit campak
bintik merah penyakit campak

Telinga terasa panas, suhu badan naik, bintik merah semakin banyak. 08 Juni 2016 sekitar pukul 17.00 saya memutuskan untuk berobat ke sebuah rumah sakit. Saya memilih dokter umum, tidak dokter spesialis kulit.

Saat diperiksa suhu tubuh saya di atas 38 derajat celcius. Tergolong masih tinggi kata dokter, memang saya merasakan sesuatu yang tidak biasa dengan suhu tubuh 38 derajat. Saya sampaikan keluhan-keluhan yang saya alami selama beberapa hari. Ditambah melihat bintik merah di seluruh tubuh, mata merah dan pemeriksaan lainnya, dokter dengan teganya “mencampakkan aku.”

Dengan tanpa ragu dokter memvonis saya yang tidak bersalah ini mengidap penyakit campak. Antara percaya dan gak percaya, tapi itulah kenyataan. Penyakit yang biasanya terjadi pada balita kini bisa menyerang tubuh dewasa ini. Hmmm... inilah hidup.

Dokter menyuruh saya untuk rawat inap, mungkin dengan pertimbangan karena penyakit ini bisa dengan mudah menular sehingga saya harus diisolasi. Tapi dengan sangat terpaksa saya menolaknya dengan berbagai pertimbangan pula.

Oiya, sebagai informasi, penyakit campak bisa menular melalui udara (ketika batuk) dan ludah/air liur si penderita campak. Makanya waktu terkena campak saya selalu di dalam kamar karena takut menular ke orang di sekeliling saya.

Setelah 2 hari berobat, tepatnya 10 Juni 2016 pagi hari, bintik/ruam merah di badan saya sudah mulai ada tanda kesembuhan. Bintik yang tadinya merah mudah sedikit demi sedikit berubah menjadi merah gelap/hitam. Di bagian muka sudah mulai terkelupas seperti ganti kulit, sedangkan tangan, kaki dan badan hanya berubah menghitam.

Di hari Sabtu, 11 Juni 2016, mulai dari pagi hingga sore bintik merah semakin berkurang. Senang rasanya. Tapi bintik merah sudah hilang, timbul penderitaan baru. Kaki dan persendiannya terasa kaku dan bengkak. Hingga esok paginya semakin menjadi, seluruh badan terasa pegal linu, untuk bangun dari tidur saja susahnya minta ampun. Rasanya seperti orang yang habis olah raga ekstra berat setelah lama tidak pernah olah raga. Pergelangan dan sendi-sendi kembali sakit. Untuk berdiri sebentar sudah terasa sakit.

Hari berikutnya pegal, nyeri sendi sudah mulai berkurang, diganti dengan penderitaan berikutnya yaitu mulut kering. Meskipun banyak minum tetap saja mulut terasa kering. Upilpun masih upil hitam seperti darah kering, tapi sejauh ini tidak apa-apa sih. Sekarang kondisi badan pun sudah baik dari hari-hari sebelumnya, meskipun puasa masih bolong.

Hingga tulisan ini saya posting, kondisi badan saya sudah membaik. Bisa dibilang saya sudah sembuh dari sakit campak. Tapi masih belum berani puasa, karena badan masih terasa lemah. Baru keluar naik motor sebentar langsung tepar dari habis duhur sampai 16.30an.

Mungkin Anda sedang mengalami gejala seperti yang saya tuliskan atau sudah pernah menjadi korban si campak? Boleh dong sedikit sharing dengan saya dan pembaca lainnya dengan menulis di kolom komentar di bawah ini.... :-D

Posting Komentar

0 Komentar